Akulturasi Budaya Pada Komunitas Virtual ‘Sobat Ambyar’

Ratna Puspita Sari, Suprihatin Suprihatin

Abstract


Abstrak

 

 

Belakangan ini, sapaan ‘sobat ambyar’ begitu akrab di telinga. Istilah ini digunakan untuk menyebut penggemar penyanyi lagu-lagu campursari—Didi Kempot. Mereka adalah generasi Z yang sebelumnya lebih menggilai lagu-lagu Barat karena dianggap merepresentasi kelas sosial tertentu. Anak-anak muda itu kini membangun komunitas virtual penggila lagu-lagu Lord Didi, sapaan sang penyanyi selain jejuluk The Godfather of Broken Heartyang disematkan oleh penggemarnya. Di banyak konser, generasi Z dengan antusias hadir, menyanyi, berjoget dan larut dalam suasana yang emosional dari lirik-lirik lagu Didi Kempot yang umumnya berkisah tentang patah hati. ‘Patah hati, tapi nggak cengeng’. Begitu sanjungan para ‘sobat ambyar’ tentang lagu penyanyi idolanya itu. Mereka juga menjuluki dirinya sebagai sadboydan sadgirluntuk melegitimasi kesedihan yang mereka hayati dari lirik-lirik lagu Didi Kempot. Menarik untuk mengkaji apakah terjadi akulturasi budaya Jawa melalui lirik-lirik lagu yang dinyanyikan Didi Kempot dengan budaya asing yang sebelumnya digandrungi generasi milenial ini. Atau sebenarnya hal ini hanya fenomena sesaat yang kemudian luruh berbarengan waktu. Video lagu lawas sang maestro berjudul ‘Stasiun Balapan’ yang diunggah di media sosial, sudah ditonton tak kurang dari tujuh juta orang. Satu fenomena di dunia musik tanah air, seorang penyanyi dengan kekhasan lagu daerah yang selama ini dianggap kelas pinggiran ternyata mampu menarik perhatian anak-anak muda. Penelitian ini akan mengkaji akulturasi budaya yang terjadi dengan melihat relasi antara sosok Didi Kempot, lirik-lirik lagunya, dan fenomena terbentuknya komunitas virtual ‘sobat ambyar’ dengan pendekatan netnografi. Akulturasi budaya dalam konteks ini dilihat sebagai salah satu cara untuk mengangkat kembali nilai-nilai budaya lokal dan mendekatkannya pada generasi milenial yang pada akhirnya dapat menjadi bagian dari identitas keindonesiaan yang nyaris punah.

 

Kata kunci: Sobat ambyar, Didi Kempot, netnografi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abstract

 

The greeting 'sobat ambyar', lately is familiar to ears. This term is used to refer to fans of Campursari singer — Didi Kempot. They are Z generation who previously were more fond of Western songs because they were considered to represent certain social classes. The young people are now building a virtual community of Lord Didi's song enthusiasts, the singer's greeting in addition to the network of The Godfather of Broken Heart pinned by his fans. In many concerts, Generation Z enthusiastically attended, sang, danced and was immersed in the emotional atmosphere of the lyrics of the song Didi Kempot, which generally tells about heartbreak. 'Broken hearted, but not whiny.' Once the flattery the 'sobat ambyar' about the song of his idol singer. They also dubbed themselves as sadboy and sadgirl to legitimize the sadness they experienced from the lyrics of the song Didi Kempot. It is interesting to study whether there is acculturation of Javanese culture through the lyrics of songs by Didi Kempot with foreign cultures that were previously loved by this millennial generation. Or actually this is just a momentary phenomenon which then decays in unison with time. The maestro's old song video titled 'Stasiun Balapan' uploaded on social media, has been watched by no less than seven million people. One phenomenon in the world of music in the country, a singer with a distinctive regional song that has been considered a fringe class turned out to be able to attract the attention of young children. This study will examine the cultural acculturation that occurs by looking at the relationship between the figure of Didi Kempot, the lyrics of the song, and the phenomenon of the formation of a virtual community 'friend ambyar' with a netnographic approach. Cultural acculturation in this context is seen as one of the ways to revive local cultural values and bring them closer to millennial generations which can eventually become part of the endangered Indonesian identity.

 

Keywords: Sobat ambyar, Didi Kempot, netnografi.

 


Full Text:

PDF

References


Sumber Referensi

Bungin, Burhan. (2009). Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Prenada Media.

Koentjaraningrat. (2005). Pengantar Antropologi II: Pokok-Pokok Etnografi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kozinet, R.V. (2010). Netnography: Doing Ethnographic Research Online. Los Angeles: Sage.

Mulyana, Deddy. (2005). Komunikasi Lintas Budaya: Pemikiran, Perjalanan, dan Khayalan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat (ed). (2001). Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Pratama, Hellen Chou. (2012). Cyber Smart Parenting: Kiat Sukses Menghadapi dan Mengasuh GENERASI DIGITAL. Bandung: Visi Press.

Santosa, Elizabeth T. (2015). Raising Children in Digital Era. Jakarta: Elex Media Komputindo

Selvin, J. (2002). The Internet and Forms of Human Association in D. McQuail, Reader in Mass Communication Theory. London: Sage.

Smith, Eliot R & Mackie, Diane M. (2000). Social Psychology. 2nd Edition. Philadelphia: Psychology Press.

West, Richard & Lynn H. Turner. (2008) Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi 3rd Edition. Jakarta: Salemba Humanika.

Internet:

https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/harmonia/article/download/775/707

https://etnis.id/didi-dan-sobat-ambyar-merawat-bahasa-jawa-dan-kesedihan/

https://m.kapanlagi.com/didi-kempot/profil/

https://www.tagar.id/kisah-di-balik-nama-penyanyi-campur-sari-didi-kempot

https://historia.id/galeri/articles/didi-kempot-makin-tua-makin-ambyar-Db2Bd

https://www.solopos.com/ini-arti-lirik-lagu-stasiun-balapan-didi-kempot-1026185

https://mediaindonesia.com/read/detail/271690-didi-kempot-bocorkan-makna-lagu-stasiun-balapan

https://tirto.id/lord-didi-kempot-boleh-jadi-fana-tapi-air-matanya-akan-abadi-eeVl

https://www.instagram.com/p/B4Crx3LDf5D/?igshid=p1chmrbcvtae




DOI: http://dx.doi.org/10.12928/channel.v8i1.15058

Article Metrics

Abstract view : 0 times
PDF - 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Universitas Ahmad Dahlan

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

...........................................................

Published by Universitas Ahmad Dahlan in collaboration with Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) and Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia (APJKI).

ISSN 2339-2681 (print) and ISSN 2621-2579 (online)

Creative Commons License


Channel: Jurnal Komunikasi is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View my stats